Widget HTML Atas

Belajar Bilang Tidak, Tanpa Merasa Jahat


Banyak dari kita sebenarnya sadar, tapi memilih pura-pura nggak lihat. Tentang kenapa dalam banyak hubungan entah itu pertemanan, keluarga, atau kerjaan orang yang cenderung nggak enakan justru sering banget ketemu sama orang-orang yang suka kelewat batas.

Bukan cuma sekali dua kali, tapi kayak pola yang terus berulang. Sampai akhirnya kita cuma bisa tarik napas panjang sambil mikir, “kok bisa kejadian lagi sih?”

Hal-hal kecil yang kelihatannya sepele, tapi entah kenapa selalu ninggalin rasa nggak nyaman. Misalnya kita mengangguk, padahal sebenarnya pengin nolak. Atau baca chat, terus ditunda bales. Bukan karena sibuk, tapi karena lagi mikir keras nyusun kata yang aman, yang nggak bikin siapa pun tersinggung.

Dan sering kali, kita ada di posisi itu bukan karena bodoh atau lemah. Tapi karena dari dulu memang terbiasa mendahulukan perasaan orang lain.

Kita mikir terlalu banyak soal perasaan orang, sampai lupa sama perasaan sendiri. Kita diam waktu obrolan mulai nggak enak, demi suasana tetap damai. Kita iyain permintaan orang, walau dalam hati sebenarnya sudah capek.

Nggak ada konflik besar yang kelihatan. Tapi setelahnya, badan dan pikiran sama-sama terasa lelah.

Masalahnya, nggak semua orang nangkap niat baik dengan cara yang sama. Ada yang lihat itu sebagai kebaikan. Tapi ada juga yang nganggep itu sebagai lampu hijau buat terus minta, terus nuntut, terus nerobos batas.

Dari situ, permintaan makin banyak. Tuntutan datang tanpa rasa bersalah. Batasan dilanggar seolah-olah itu hal biasa.

Lalu kita mulai bertanya dalam hati, “kenapa sih selalu aku?” Kenapa orang yang nggak enakan rasanya selalu ada di posisi yang harus mengalah, nunggu, memahami? Sementara ada orang-orang yang kayaknya sama sekali nggak pernah mikir kalau dirinya mungkin kebablasan.

Kesel, tapi bingung mau marah ke siapa. Di satu sisi merasa sudah berbuat baik, tapi di sisi lain merasa diri sendiri makin kelelahan. Mengalah lagi, memahami lagi, menunda jujur lagi.

Padahal kalau ditarik lebih dalam, sering kali kita sendiri yang tanpa sadar membuka pintu itu. Dengan kata “iya” yang terlalu gampang keluar, atau dengan diam yang kita kira tanda pengertian.

Ini bukan cuma soal cerita pribadi, tapi kegelisahan banyak orang. Tentang hubungan yang terasa timpang. Tentang rasa sungkan yang dipelihara terus. Tentang orang yang kelihatan “nggak tahu diri” karena berhadapan dengan orang yang jarang bilang “tidak”.

Karena orang yang nggak enakan lebih sering mengubur perasaan jujurnya, daripada mengungkapkannya. Takut dibilang egois, takut dianggap nggak sopan, padahal cuma lagi capek.

Sebelum buru-buru menyalahkan siapa pun, mungkin ada baiknya kita lihat lebih jujur: bisa jadi masalahnya bukan cuma di perilaku orang lain, tapi juga di cara kita merespons mereka.

Dalam psikologi, sifat nggak enakan sering disebut people-pleasing dan high agreeableness. Kedengarannya ribet, tapi sebenarnya gampang: suka jaga perasaan orang, anti konflik, pengin semua orang nyaman—meskipun diri sendiri harus sedikit dikorbankan.

Sejak kecil, banyak dari kita diajarin kalau jadi orang baik itu harus ngerti orang lain. Mengalah dianggap dewasa. Menahan diri dianggap sopan.

Makanya sifat ini sering dipuji. Kita dibilang pengertian, enak diajak kerja sama, bisa diandalkan. Dan awalnya kita bangga.

Pelan-pelan, kita belajar kalau bilang “iya” itu lebih aman daripada bilang “tidak”. Diam terasa lebih gampang daripada harus jelasin perasaan yang bisa bikin suasana canggung.

Secara luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Nggak ada drama, nggak ada ribut. Tapi di dalam, perasaan sendiri makin lama makin diabaikan.

Di sinilah masalahnya. People-pleasing bikin kita terbiasa membaca kebutuhan orang lain, tapi lupa dengar sinyal dari diri sendiri. Capek dibilang biasa. Kesel dibilang lebay.

Sampai akhirnya, nggak enakan bukan cuma sifat, tapi jadi identitas. Kita merasa bersalah kalau menolak. Ragu kalau mau berhenti. Bahkan saat sadar ada yang nggak adil, kita tetap bertahan dengan alasan, “ah mungkin dia nggak bermaksud.”

Niat baik berubah jadi kebiasaan mengorbankan diri. Dan karena prosesnya halus, kita jarang sadar kalau itu sebenarnya melelahkan.

Sering kali kita sibuk menyalahkan orang yang “nggak tahu diri”. Tapi jarang bertanya, gimana sih pola ini bisa terbentuk?

Batasan yang nggak pernah ditegaskan, sering kebaca sebagai kelonggaran. Diam dianggap setuju. Terus memberi dianggap selalu siap.

Bukan berarti orang lain sengaja jahat. Tapi mereka merespons apa yang kelihatan. Kalau nggak ada penolakan, mereka pikir aman. Kalau kita selalu ada, mereka pikir kita selalu mampu.

Lama-lama, batas yang kabur terasa seperti undangan. Undangan buat masuk lebih jauh. Dan karena nggak pernah ditutup, mereka terus melangkah.

Kita berharap orang lain peka. Tapi kenyataannya, nggak semua orang bisa baca kode. Apa yang berat buat kita, bisa terasa biasa buat mereka.

Yang dibiarkan hari ini, dianggap normal besok. Yang nggak dikomentari, dianggap boleh selamanya.

Akhirnya hubungan jadi timpang. Kita memberi lebih dari yang sanggup. Kesal dipendam. Lalu kita menyebut mereka “nggak tahu diri”, tanpa sadar bahwa pola ini juga tumbuh dari kebiasaan kita sendiri.

Bukan untuk menyalahkan diri, tapi buat sadar: batasan itu perlu diucapkan, bukan cuma diharapkan.

Karena kebaikan tanpa batas, gampang disalahartikan. Pengertian tanpa suara, bisa berubah jadi beban.

Mungkin yang sering kita sebut “nggak tahu diri” bukan cuma soal sifat orang lain, tapi juga soal hubungan yang terlalu lama berjalan tanpa batas yang jelas.

Dan mungkin, yang perlu kita tanyakan bukan lagi, “kenapa aku selalu ketemu orang kayak gini?”
Tapi, “batas apa yang belum pernah benar-benar aku jaga?”

Bukan untuk mengubah siapa pun. Tapi untuk lebih jujur ke diri sendiri.

Karena menjaga hubungan seharusnya bukan berarti terus-menerus mengorbankan diri. Ada saatnya berhenti, bilang “tidak”, dan sadar kalau capek itu bukan egois itu manusiawi.

Andi Hasbi Jaya
Andi Hasbi Jaya Adalah seorang blogger sekaligus Konten Creator dengan latar belakang ilmu kependidikan yang menekuni bisnis internet sejak tahun 2008 dan sesekali menulis di beberapa blog miliknya, dan konsisten mengembangkan Channel Youtube pribadinya.

No comments for "Belajar Bilang Tidak, Tanpa Merasa Jahat"